BreakingNews 11 Maret 2020- 200 kali LOMBA VIDEO TEASER, HARI GIZI NASIONAL ... BreakingNews 17 Oktober 2019- 332 kali Peringatan Hari Kesehatan Nasional yang ke 56 ... BreakingNews 25 Maret 2019- 438 kali PENGUMUMAN KELULUSAN SELEKSI ENUMERATOR TAHAP 1 KE ... BreakingNews 30 Oktober 2017- 2947 kali Website Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang ...
Difteri
Diposting oleh : Dinkes Kab. Sumedang
Kamis, 04 Januari 2018   10:21:20 WIB

Dibaca: 2538 kali

Difteri adalah infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa.

Menurut World Health Organization (WHO), tercatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Dari 3.353 orang yang menderita difteri, dan 110 di antaranya meninggal dunia. Hampir 90% dari orang yang terinfeksi, tidak memiliki riwayat imunisasi difteri yang lengkap.

Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan imunisasi terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasikan dengan pertusis (batuk rejan) dan tetanus ini disebut dengan imunisasi DTP. Sebelum usia 1 tahun, anak diwajibkan mendapat 3 kali imunisasi DTP. Cakupan anak-anak yang mendapat imunisasi DTP sampai dengan 3 kali di Indonesia, pada tahun 2016, sebesar 84%. Jumlahnya menurun jika dibandingkan dengan cakupan DTP yang pertama, yaitu 90%.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae.  Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri. Ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti:

  • Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.
  • Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.
  • Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal, serta sistem saraf.

Terkadang, difteri bisa jadi tidak menunjukkan gejala apapun sehingga penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya terinfeksi. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Gejala Difteri

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi:

  • Terbentuknya lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.
  • Demam dan menggigil.
  • Sakit tenggorokan dan suara serak.
  • Sulit bernapas atau napas yang cepat.
  • Pembengkakan kelenjar limfe pada leher.
  • Lemas dan lelah.
  • Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkan luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Segera periksakan diri ke dokter jika Anda atau anak Anda menunjukkan gejala-gejala di atas. Penyakit ini harus diobati secepatnya untuk mencegah komplikasi.

Diagnosis dan Pengobatan Difteri

Untuk menegakkan diagnosis difteri, awalnya dokter akan menanyakan beberapa hal seputar gejala yang dialami pasien. Dokter juga dapat mengambil sampel dari lendir di tenggorokan, hidung, atau ulkus di kulit untuk diperiksa di laboratorium.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Dokter akan menganjurkannya untuk menjalani perawatan dalam ruang isolasi di rumah sakit. Lalu langkah pengobatan akan dilakukan dengan 2 jenis obat, yaitu antibiotik dan antitoksin.

Antibiotik akan diberikan untuk membunuh bakteri dan menyembuhkan infeksi. Dosis penggunaan antibiotik tergantung pada tingkat keparahan gejala dan lama pasien menderita difteri.

Sebagian besar penderita dapat keluar dari ruang isolasi setelah mengonsumsi antibiotik selama 2 hari. Tetapi sangat penting bagi mereka untuk tetap menyelesaikan konsumsi antibiotik sesuai anjuran dokter, yaitu selama 2 minggu.

Penderita kemudian akan menjalani pemeriksaan laboratorium untuk melihat ada tidaknya bakteri difteri dalam aliran darah. Jika bakteri difteri masih ditemukan dalam tubuh pasien, dokter akan melanjutkan penggunaan antibiotik selama 10 hari.

Sementara itu, pemberian antitoksin berfungsi untuk menetralisasi toksin atau racun difteri yang menyebar dalam tubuh. Sebelum memberikan antitoksin, dokter akan mengecek apakah pasien memiliki alergi terhadap obat tersebut atau tidak. Apabila terjadi reaksi alergi, dokter akan memberikan antitoksin dengan dosis rendah dan perlahan-lahan meningkatkannya sambil melihat perkembangan kondisi pasien.

Bagi penderita yang mengalami kesulitan bernapas karena hambatan membran abu-abu dalam tenggorokan, dokter akan menganjurkan proses pengangkatan membran. Sedangkan penderita difteri dengan gejala ulkus pada kulit dianjurkan untuk membersihkan bisul dengan sabun dan air secara seksama.

Selain penderita, orang-orang yang berada di dekatnya juga disarankan untuk memeriksakan diri ke dokter karena penyakit ini sangat mudah menular. Misalnya, keluarga yang tinggal serumah atau petugas medis yang menangani pasien difteri.

Dokter akan menyarankan mereka untuk menjalani tes dan memberikan antibiotik. Terkadang vaksin difteri juga kembali diberikan jika dibutuhkan. Hal ini dilakukan guna meningkatkan proteksi terhadap penyakit ini.

Komplikasi Difteri

Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dari 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri.

Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa. Beberapa di antaranya meliputi:

  • Masalah pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang diproduksi bakteri difteri akan membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal napas.
  • Kerusakan jantung. Selain paru-paru, toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebabkan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung, dan kematian mendadak.
  • Kerusakan saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma, serta pembengkakan saraf tangan dan kaki. Paralisis pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernapas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator. Paralisis diagfragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap di rumah sakit hingga 1,5 bulan.
  • Difteri hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteria yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Pencegahan Difteri dengan Vaksinasi

Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus, dan pertusis atau batuk rejan.

Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun, dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun dan 18 tahun. Vaksin Td dapat diulangi setiap 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal.

Apabila imunisasi DTP terlambat diberikan, imunisasi kejaran yang diberikan tidak akan mengulang dari awal. Bagi anak di bawah usia 7 tahun yang belum melakukan imunisasi DTP atau melakukan imunisasi yang tidak lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak Anda. Namun bagi mereka yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan.

Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur hidup.


Sumber : http://www.alodokter.com

Postingan Terkait

Postingan Lainnya
 
img
13 Desember 2019 213

Capacity Building Dinas Kesehatan Kabupaten S[..]

img
08 Januari 2018 0
img
21 Oktober 2017 306
img
05 Januari 2018 871
Menyusul adanya kasus difteri di beberapa daerah, [..]
img
08 Januari 2018 1060
Implementasi aplikasi SIKDA Generik di[..]
img
30 Oktober 2017 2947
Selamat datang di Website Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang
img
02 Februari 2018 607
Sebagian orang beralasan karena mereka tidak punya[..]
Tags
 
Video Pilihan
Link Terkait
Publikasi Dokumen
No. Nama File Unduh
1. Profil Dinkes Sumedang Tahun 2019 388 kali
2. Kesga Gizi Orientasi Buku 76 kali
3. Pedoman Pelayanan Gizi Pada Ma[..] 126 kali
4. KMK No. HK.01.07-MENKES-413-20[..] 104 kali
5. KEMENDAGRI. OPERASIONAL POSYAN[..] 111 kali
6. Materi Riskiyana S Putra 2.173 kali
7. SIEVKA Dinkes 2019 103 kali
8. Rencana Aksi Dinas Kesehatan 2019 294 kali
9. LAKIP 2019 219 kali
10. Profil Dinkes Tahun 2018 621 kali
11. Format Data Stunting 367 kali
12. Profil Dinkes Tahun 2017 286 kali
13. Renstra 2019-2023 309 kali
14. IKI Dinas Kesehatan Tahun 2019 253 kali
15. Perjanjian Kinerja Dinkes 2019 166 kali
16. SK IKU DInkes 2019 293 kali
17. Materi Sosialisasi EClaimPrimer Tahap 2 207 kali
18. KEBIJAKAN SIK JABAR SUMEDANG 254 kali
19. EVALUASI SIK 342 kali
20. Teknis_Mekanisme_Pemanf_Data 266 kali
21. program dan inovasi pelayanan 217 kali
22. SK IKU Dinas Kesehatan 2018 738 kali
23. Renstra dinkes 2014-2018 revis[..] 912 kali
24. RENJA PERUBAHAN JADI 2018 339 kali
25. RENCANA AKSI SUB BAG PROGRAM 2018 267 kali
26. RANCANGAN RENJA 2018 192 kali
27. Perjanjian Kinerja Bu Kadis 2018 174 kali
28. Lakip 2018 209 kali
29. Renstra dinkes 2014-2018 261 kali
30. Pohon Kinerja 2019 213 kali
31. Ranwal Renstra Dinkes 27 November 2018 737 kali
32. Ranwal Renstra Dinkes Tahun 2019-2023 710 kali
33. Profil Kesehatan Tahun 2016 459 kali
34. SOP Kinerja Dinkes 2017 250 kali
35. Rencana Kerja Tahunan (RKT) Dinkes 2017 266 kali
36. Rencana Aksi Dinkes 2017 827 kali
37. IKU Dinas Kesehatan Sumedang 2017-2018 307 kali
38. Daftar Desa wilayah Puskesmas [..] 326 kali
39. PMK 43 tahun 2016 tentang SPM 262 kali
40. PMK_No._44_ttg_Pedoman_Manajem[..] 275 kali
41. Petunjuk Pengisian Aplikasi SPM 336 kali
42. PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK [..] 304 kali
43. RAD SDGs KABUPATEN SUMEDANG TA[..] 555 kali
44. Pengumuman untuk Calon Emumrat[..] 334 kali
45. Undangan Untuk Calon Enumratos[..] 389 kali
46. Materi Bimtek BOK 2018 BPKAD 2 823 kali
47. Materi Bimtek BOK 2018 BPKAD 2.470 kali
48. Rangkuman Rakerkesnas 2018 272 kali
49. Materi Rapat SPM 2018 1.057 kali
50. Materi Rakerkes 2018. Bidang Yankes 1.048 kali
51. Materi Rakerkes 2018. Bidang SDK 737 kali
52. Materi Rakerkes 2018. Bidang P2P 392 kali
53. Materi Rakerkes 2018. Bidang Kesmas 708 kali
54. Materi Rakerkes 2018. Capaian [..] 595 kali
55. PENERIMAAN ENUMERATOR RISET KE[..] 550 kali
56. RENJA (RENCANA KERJA) 395 kali
57. Wawasan NKRI 3.189 kali
58. Fakta Integritas 407 kali
Artikel
 

Difteri

dibaca 2539 kali- 04 Januari 2018
Facebook
 
Galeri
 
1 / 6
2 / 6
3 / 6
4 / 6
5 / 6
6 / 6

kvkhvk kvv
kjbb
duouok jbjb
APIV
APLIKASI PELAPORAN INFORMASI VAKSINASI
Kesrak PKK KB KES Desa Pasir Reungit Kec Paseh
Map